Oleh : Drs.H. Muchtar Ali, M.Hum
Perubahan dan pergantian zaman merupakan sunnatullah.
Oleh karena itu dalam kehidupan kita ini terjadi pergantian generasi dari suatu
generasi ke generasi berikutnya. Masa depan agama, bangsa dan negara salah
satunya ditentukan pada hari ini, karena itu setiap kita punya tanggung jawab
menghadapi hari esok, yang bisa jadi zamannya sangat berbeda dengan zaman yang
kita alami, bahkan tantangan masa depan bisa jadi amat berbeda dengan yang kita
hadapi sekarang. Oleh karena itu agama Islam memerintahkan agar kita
mempersiapkan generasi atau pemuda dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah SAW, memiliki banyak sahabat yang lebih muda
dari beliau, bahkan banyak yang jauh lebih muda dari beliau. Ali bin Abi Thalib
salah satu pemeluk Islam yang paling awal. Beliau memeluk Islam atas
keinginannya sendiri ketika berusia 8 tahun, Beliau senantiasa berada di
samping Rasulullah. Beliau juga menyertai Rasulullah SAW pada saat bertemu
dengan 40 pemuka Quraisy, yang merupakan tokoh-tokoh paling berpengaruh di
masyarakat pada waktu itu. Pada pertemuan itu Rasulullah menyeru mereka untuk
masuk Islam, tetapi mereka menolak seruan tersebut. Pada saat itu Ali ra.
berdiri di sisi Rasulullah sembari memandang kepada semua yang hadir, kemudian berkata
: “Aku beriman kepadanya, dan aku menjadi penolongnya”. Arqam bin Abi Arqam,
Usman bin Umair dan sebagainya. Ja’far bin Abi Thalib yang berani berdiri di
depan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia) untuk mewakili dan membela kaum
muslimin, padahal ketika itu ia baru berusia 20 tahun. Masih banyak lagi contoh
pemuda pemudi muslim yang mampu memberikan konstribusi yang besar kepada Islam
dan berprestasi tinggi semata-mata mencari ridha Allah SWT.
Perhatian Islam yang besar terhadap generasi muda menunjukkan
bahwa masa muda merupakan masa yang sangat penting dan masa yang paling
berharga. Generasi muda merupakan rahasia kekuatan suatu umat, tiangnya
kebangkitan, kebanggaan dan kemuliaan. Di atas pundak merekalah masa depan umat
terpikul, karena pemuda memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari segi
keberanian, kecerdasan, semangat, maupun dari kekuatan jasmaninya.
“Berikan 10 orang pemuda dan aku akan mampu memindahkan
sebuah gunung dan berikan aku 100 orang pemuda maka aku akan dapat menggerakkan
dunia” pernyataan populer tersebut ditegaskan Bapak Proklamator Republik
Indonesia Bung Karno mengenai arti pentingnya posisi pemuda.
Sosok pemuda mempunyai nilai sejarah tersendiri. Peran
pemuda Indonesia senantiasa ada pada lini terdepan dalam sejarah bangsa.
Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamsi Kemerdekaan R.I 1945,
Perubahan dari Orde Lama ke Orde Baru 1966, dari Orde Baru ke Orde Reformasi
1988. Bahkan masyarakat Internasional menyadari arti penting dan nilai
strategis pemuda sebagai agen perubahan (agent of change) dalam pembangunan.
Pada periode lahirnya syari’at Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad SAW, generasi muda memegang peranan yang sangat penting dalam
menyebarluaskan dakwah Islamiyah, karenanya jangan lewatkan masa muda untuk hal-hal
yang tak ternilai di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab
kita untuk menghasilkan generasi Islam yang berkualitas Islami.
Paling tidak, ada empat hal yang menjadi kriteria dari
profil pemuda muslim yang berkualitas, yaitu :
I. Pertama, Pemuda
yang memiliki aqidah yang benar. Akidah Islam tegak berdasarkan peng-Esaan
kepada Allah, mengakui-Nya sebagai Tuhan, penguasa, pencipta, pemberi rizki,
pemilik langit, bumi dan seisinya serta satu-satunya Zat yang akan menghidupkan
kembali yang akan memberikan balasan kepada hamba-hamba-Nya, dan inti dari
akidah adalah Tauhid.
Tauhid menjadi misi utama para nabi dan rasul serta para
shalih terdahulu yang tidak boleh dilupakan. Apa yang dilakukan oleh Yaqub as
ketika hampir wafat, patut kita teladani dalam mempersiapkan pemuda sebagai
generasi penerus. Waktu itu, Yaqub bertanya kepada anak-anaknya, “Apa yang akan
kalian sembah sepeninggalanku?” semua anak-anaknya menjawab, kami akan
menyembah Tuhanmu, Tuhan bapak-bapakmu-Ibrahim, Ismail, Ishak yakni Allah SWT
dan kami berserah diri kepada-Nya (kisah ini diabadikan dalam QS. 2 Al Baqarah
: 133).
Demikian pula pengajaran Lukman kepada anaknya yang
diabadikan dalam Al-Qur’an yang artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata
kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar” (QS. 31 Lukman : 13).
Dasar pendidikan akhlak bagi seorang pemuda adalah akidah
yang benar, karena akhlak tersarikan dari akidah dan pancaran darinya. Oleh
karena itu jika seorang pemuda berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun
akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika akidahnya salah dan
melenceng, maka akhlaknya pun akan tidak benar.Dalam satu hadits Rasulullah SAW
bersabda : اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا “Mukmin
yang sempurna imannya, adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Turmudzi dari
Abi Hurairah).
II. Kedua, menempa
diri dengan memiliki ilmu dan tsaqafah Islam. Kita semua terutama pemuda
hendaklah senantiasa menempa diri dan secara terus-menerus mencari ilmu dan
mengamalkannya. Tanpa ilmu pemuda akan tertinggal. Islam mengajak manusia untuk
menguasai ilmu, dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
yang artinya : “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar
(manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya” (QS. 96 Al-‘Alaq : 1-4).
Betapa pentingnya ilmu bagi seorang pemuda, Rasul yang
mulia senantiasa memotivasi umatnya untuk belajar dan membaca. Ada baiknya kita
menelaah kembali kisah seorang pemuda yang usianya belum genap tiga belas tahun
berjalan mendekati barisan pasukan muslim dengan membawa sebilah pedang ia
mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, aku membaktikan hidupku
kepadamu. Izinkan aku untuk pergi bersamamu dan memerangi musuh-musuh Allah di
bawah panji-panjimu”.
Rasulullah yang mulia memandang anak tersebut dengan
penuh kekaguman dan menepuk pundaknya. Beliau memuji keberaniannya, tetapi
menolaknya untuk bergabung dengan pasukan muslim. Anak muda itu (Zaid bin
Tsabit ra.) Rasulullah pun kemudian memberikan tugas kepadanya. “Zaid pergilah
belajar tulisan Yahudi”. Zaid kemudian belajar bahasa Ibrani. Maka kemudian ia
sangat fasih berbahasa Ibrani dan menjadi sekretaris Rasulullah SAW. Rasulullah
juga memerintahkan Zaid untuk belajar bahasa Syria. Demikian Zaid mempunyai
fungsi penting ketika Rasulullah berunding dan berkomunikasi dengan
bangsa-bangsa yang tidak bisa bahasa Arab.
III. Ketiga, dari ciri
pemuda yang diharapkan di dalam Islam adalah memiliki keterampilan dalam
berbagai hal untuk dimanfaatkan dalam kebaikan dan kebenaran dalam upaya
mencapai kemajuan diri, keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Pada
masa Rasulullah SAW para sahabat telah menunjukkan kemampuan yang terampil
dalam berbagai hal, ada yang terampil dalam berdagang, berperang dan sebagainya
yang semua ini tentu saja amat berguna.
Kepada mereka yang memang terampil, Rasulullah SAW
sendiri tidak segan-segan memberi penghargaan dan amanah guna mengembangkan
keterampilannya itu. Maka ketika Usamah bin Zaid telah menunjukkan
keterampilannya yang luar biasa dalam berperang, beliau tidak segan-segan
mengangkatnya menjadi panglima perang meskipun umurnya baru 17 tahun, sementara
Mush’ab bin Umair yang terampil dalam dakwah, ditugaskan beliau untuk dakwah ke
Yatsrib (Madinah).
IV. Keempat, memiliki
tanggung jawab, Di antara bukti kebenaran dan kemuliaan nilai-nilai Islam
adalah adanya tuntutan tanggung jawab dari setiap individu atas semua
perbuatannya. Diferensiasi yang hakiki antara manusia adalah dengan mengukur
rasa tanggung jawab serta kemauan untuk menanggung akibat dari perbuatan yang
dilakukan.
Prinsip tanggung jawab ini merupakan salah satu prinsip
yang ditetapkan dalam Al Qur’an dalam sejumlah ayatnya :كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ
رَهِينَةٌ. “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”
(QS. 74 Al Mudatsir : 38).
Pada prinsipnya tanggung jawab ini mencakup kepada tiga
hal, yaitu; tanggung jawab pemuda sebagai seorang individu, tanggung jawab
sebagai anggota masyarakat, tanggung jawab sebagai bagian dari umat. Menunaikan
kewajiban terhadap umat Islam yang tersebar di seluruh belahan dunia dan dalam
setiap bidang kehidupan. Ketiga, tanggung jawab tersebut dengan segala cakupannya menurut
DR. Ali Abdul Halim Mahmud mantan Syeikh Al Azhar dalam kitabnya At-Tarbiyah
al-Khuluqiyah dengan edisi Indonesia “Akhlak mulia” menegaskan bahwa
meninggalkan ketiga kewajiban ini merupakan keburukan yang dicela oleh Islam.
Ketiga tanggung jawab tersebut sangat sesuai dengan nilai-nilai kemasyarakatan
dan nilai-nilai kemanusiaan atau humanisme.
Untuk mewujudkan pemuda yang berkualitas itu, maka paling
tidak ada tiga institusi yang mempunyai pengaruh sangat efektif, yaitu :
a. Keluarga, dalam pengertian sempit mencakup kedua orang
tua, saudara dan kerabat. Dalam pengertian luas mencakup teman, tetangga,
masyarakat secara keseluruhan.
b. Masjid, memberi pengaruh yang baik bagi jiwa orang-orang
dalam berhubungan dengan sang Pencipta.
c. Sekolah, meliputi unsur-unsur yang ada di dalamnya,
buku, peralatan, methode, gedung dan hal-hal yang mempengaruhi murid.
Para pemuda sangat dituntut untuk mempersiapkan dirinya
guna menyongsong masa depan agama, bangsa dan negara yang cerah, dan
mempersiapkannya memerlukan perhatian dan kerja sama yang serius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar